Wapres Marah Lihat Kondisi Bandara Hasanuddin

SP/M Kiblat Said
Wakil Presiden Jusuf Kalla memeriksa pengerjaan proyek Bandara Internasional Hasanuddin, Makassar, Sulawesi Selatan, Jumat (25/4). Tampak Side Manager Proyek Bandara, Muh Yusuf menjelaskan bagian pekerjaan bandara yang belum rampung. Kalla minta kontraktor bandara itu diberi sanksi tegas.
[MAKASSAR] Wakil Presiden Jusuf Kalla marah ketika melihat kondisi pengerjaan Bandara Internasional Hasanuddin yang belum rampung, padahal jadwal pekerjaan proyek senilai lebih Rp 500 miliar, itu sudah lima kali diberi perpanjangan waktu penyelesaian.
"Bagaimana cara kontraktor ini bekerja. Proyek ini berlangsung sejak 2005, tapi kenapa belum juga selesai," kata Kalla dengan nada marah, ketika melihat langsung seluruh pengerjaan bangunan bandara tersebut, Jumat (25/4) siang.
Didampingi Menteri Perhubungan Usman Syafi'i Jamal, Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (HAM) Andi Mattalatta, Gubernur Sulawesi Selatan (Sulsel) Syahrul Yasin Limpo, anggota Komisi V DPR Abdul Hadi Djamal, Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Sulsel Aksa Mahmud dan Muspida Sulsel, Kalla tampaknya tak dapat menyembunyikan rasa kekesalannya. Kalla mengamati lantai bangunan yang terbuat dari batu marmer putih banyak yang pecah-pecah sebelum digunakan.
Kalla memanggil Direktur Utama Angkasa Pura, Bambang Parwoto. "Coba kamu jelaskan, kenapa pekerjaan bandara ini banyak yang belum tuntas. Apa karena uangnya yang lambat atau memang kontraktornya yang tidak sanggup. Padahal, sudah berapa kali diperpanjang untuk memberi kesempatan mereka menyelesaikan," katanya.
Bambang menjelaskan, pengerjaan bandara bukan tersendat karena anggaran, melainkan karena kelambatan pekerjaan kontraktor dan diperkirakan bandara ini baru akan rampung Agustus mendatang.
Mendengar jawaban tersebut, anggota Komisi V Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang membawahi masalah perhubungan, Abdul Hadi Djamal menyela, Agustus tahun berapa. Apakah Agustus 2008 atau 2009. Sebab, dulu juga dikatakan Agustus 2007 sudah rampung, ternyata sampai saat ini belum dapat dioperasikan lantaran masih banyak pekerjaan bangunan induk bandara yang terbengkalai dan sudah lima kali mengalami perpanjangan waktu.
Dirut Angkasa Pura meminta Hadi Djamal yang saat itu berada di samping Jusuf Kalla untuk diam. "Pak Hadi ndak usah banyak komentar, yang jelas penyelesaian pekerjaan ini akan kita percepat," kata Bambang.
Merasa pertanyaannya dilecehkan, Hadi Djamal naik pitam lalu dengan nada meninggi mengatakan.
"Saya berhak bersuara karena anggota DPR, supaya Anda tahu bahwa saya punya hak untuk melakukan kontrol terhadap penyelesaian pekerjaan bandara ini," katanya.
Melihat arah pembicaraan kian menegang, Kalla langsung menenangkan keduanya. "Sudah-sudah, kalian lihat apa saya, saya ini wakil presiden," tandasnya yang membuat Bambang langsung meminta maaf kepada Kalla dan berjanji siap menerima sanksi atas keterlambatan bandara itu.
Ancaman
Putus Kontrak Kontraktor pelaksana pekerjaan proyek pengembangan Bandara Hasanuddin Makassar sudah berulang kali diberi ancaman akan di-black list menyusul indikasi ketidakmampuan mereka menyelesaikan pekerjaannya sesuai batas waktu yang telah ditentukan.
Wakil Gubernur Agus Arifin Nu'mang berencana memanggil semua kontraktor yang terlibat dalam pekerjaan itu dan akan memberikan ultimatum. Masalahnya, keterlambatan itu sangat merugikan Sulsel.
Sejak Juli tahun lalu, empat dari 24 perusahaan kontraktor yang terlibat dalam pengerjaan proyek pengembangan Bandara Internasional Hasanuddin, terancam diputuskan kontraknya oleh Angkasa Pura, tapi mereka masih diberi toleransi.
Perusahaan yang terancam itu adalah PT GN (Bandung) yang melaksanakan pekerjaan pembangunan jalan dan tempat parkir, PT PR (Makassar) mengerjakan bagian Sewage airport Tripment Plan (STP) dan Water Treatment Plan (WTP), PT BB (Makassar) membangun Shalter BBM, dan PT AMS (Makassar) pelaksana pembangun conveger arrival dan departure.
Abdul Hadi mengatakan, jika melihat kondisi pekerjaan yang ada, sangat kecil kemungkinan bandara itu bisa selesai Agustus mendatang. "Saya perkirakan, paling lambat 2009, baru bandara tersebut dapat dioperasikan," katanya. [148]