Blog EntryPaus Benediktus XVI: "God Bless America"Apr 27, '08 9:45 AM
for everyone

CATATAN WASHINGTON DC

Paus Benediktus XVI: "God Bless America"

Sabam Siagian

Cuaca serba cerah dan matahari bersinar yang menandakan awal musim semi ketika Paus Benediktus XVI mendarat, Selasa (15/4) siang di Pangkalan Angkatan Udara Andrews, di luar ibu kota ini. Sambutan terhadap kunjungannya sebagai Kepala Negara Vatikan dan sebagai "gembala agung" dari Gereja Roma Katolik sedunia sungguh luar biasa.

Presiden George Bush, istrinya, Nyonya Laura Bush dan putri mereka, Jenna, tampak menyambut. Suatu hal yang amat jarang terjadi. Keesokan harinya, sambutan resmi di halaman Gedung Putih terhadap Paus Benediktus XVI serba megah. Hampir 9.000 tamu diundang. Dentuman meriam 21 kali menandakan kunjungan seorang kepala negara.

Pidato "Gembala Satu" (julukan itu ditulis di pesawat terbang Alitalia yang ditumpanginya) umat Katolik sedunia mencerminkan rasa simpati pada beban yang dipikul Amerika Serikat sebagai adikuasa tunggal. Pada akhir pidatonya, Paus berseru sambil menatap hadirin: "God Bless America! Kiranya Tuhan memberkati Amerika Serikat!"

Memang setelah beberapa hari singgah di Washington DC untuk suatu urusan bisnis, pengamat ini (yang pernah bermukim di negeri ini selama lebih 10 tahun) terpaksa tiba pada kesimpulan, Amerika Serikat dibebani gumpalan persoalan di dalam negeri dan di panggung internasional, yang tali-temali dan menumpuk.

Patutlah Sri Paus mendoakan: Kiranya Tuhan memberkati AS! Dan Presiden Bush segera meloncat dari kursinya dan menggenggam tangannya dengan kedua belah tangannya sebagai ucapan syukur.

*

Persoalan yang paling menonjol dalam percakapan dengan teman-teman lama dan setelah mengikuti laporan serta analisis di layar televisi adalah keterlibatan AS di perang Irak sejak 2003. Pada awalnya, masyarakat percaya apa yang disampaikan oleh Presiden Bush dan tokoh-tokoh pemerintahannya bahwa invasi masuk ke Irak amat penting dan urgen dilakukan demi keamanan nasional AS. Mereka diyakinkan dengan ditumbangkannya Presiden Saddam Hussein yang kejam itu, semuanya akan beres. Malahan ekonomi AS dan perekonomian dunia akan menikmati ekspor minyak Irak ke pasaran internasional.

Apa yang terjadi setelah lima tahun AS memikul beban perang Irak? Pertama-tama, tokoh-tokoh sekitar Presiden Bush yang mendorong keterlibatan AS secara militer di Irak (Menteri Pertahanan Rumsfeld, Wakil Menteri Pertahanan Paul Wolfowitz dan Direktur CIA, Badan Intelijen Pusat) sudah berhenti. Menlu Collin Powell yang menunjukkan keraguannya sebagai militer profesional (dia mantan Ketua Gabungan Kepala Staf) telah diganti. Hanya Wakil Presiden Dick Chenney yang masih tinggal dari kelompok getol perang Irak itu.

Sementara itu, lebih dari 4.000 militer AS tewas di Irak. Anggaran belanja yang dihabiskan sudah beribu miliar dolar. Dan perang masih terus berlanjut.

Betapa sengitnya oposisi terhadap perang Irak ini tampak dalam suatu rapat antara sebuah subkomisi Anggaran Belanja Dewan Senat dengan Direktur Anggaran Belanja Negara Gedung Putih.

Dia mempertahankan permintaan pemerintah untuk tambahan anggaran militer sebanyak 109 miliar dolar AS. Si pejabat senior itu dihujani pertanyaan yang amat kritis. Seorang Senator dengan nada sarkasme berkata: "Apakah Anda kira, sekali ini kami akan menyetujui begitu saja permintaan tam- bahan ini, sedangkan akhir perang belum juga jelas?"

Dewasa ini diperkirakan sebanyak 140.000 tentara AS bertugas di Irak. Dan masa tugas seorang prajurit telah diperpanjang dari 12 bulan menjadi 16 bulan.

Beban anggaran belanja perang Irak tambah terasa kalau dikaitkan dengan krisis ekonomi yang sedang menimpa rakyat AS. Apa yang sesungguhnya terjadi dengan sistem perbankan di AS adalah terlalu teknis untuk diterangkan. Hanya seorang pakar ekonomi moneter yang dapat menguraikannya.

Namun, akibatnya memang jelas. Beratus ribu bahkan mungkin berjuta-juta rumah tangga menderita: cicilan kredit rumah tidak sanggup dibayar karena baik suami maupun istri menganggur. Akibatnya, rumah disita. Cicilan kredit mobil sudah tercecer dan mobil terpaksa dikembalikan. Harga pangan naik, demikian juga harga BBM.

Meningkatnya harga minyak di pasaran dunia dengan sendirinya berdampak pada tarif angkutan udara dalam negeri. Gelombang protes yang disebabkan oleh kelesuan ekonomi menjalar ke mana-mana. Nilai mata uang dolar AS yang terus menciut mungkin bagus untuk mendorong ekspor beberapa komoditas. Namun, akibatnya jumlah pengeluaran untuk impor minyak dan gas terus melonjak.

Tidaklah mengherankan bahwa para calon presiden, John McCain dari Partai Republik, Hillary Clinton dan Barack Obama dari Partai Demokrat, berlomba-lomba menyajikan konsep masing-masing untuk mengatasi krisis ekonomi yang sedang melanda AS.

Bukannya Amerika Serikat kalau dalam masyarakatnya tidak berkembang gejala sosial yang serba aneh yang segera didramatisiasi oleh industri media yang agresif.

Selama kunjungan singkat pengamat ini tersiarlah laporan tentang permukiman sebuah sekte poligami di Eldorado, Texas. Kenapa itu sampai ketahuan, karena polisi menerima pengaduan telepon dari seorang perempuan yang mengaku masih berumur belasan tahun. Ia mengadu bahwa ia lari dari sebuah permukiman poligami di mana dia dipaksa mengadakan hubungan seksual dengan pria yang jauh lebih tua, sehingga melahirkan seorang anak.

Permukiman itu disebut "Yearn for Zion" (Mendambakan Zion) digerebek petugas keamanan. Beratus-ratus anak-anak digiring ke kantor polisi dan secara cepat digelar sidang pengadilan. Hakim, seorang ahli hukum wanita yang bersikap tegas, memutuskan bahwa beratus-ratus anak-anak itu memerlukan perlindungan negara. Karena tidak jelas siapa sebenarnya orangtua anak-anak itu, dari pasangan suami-istri yang mana, maka dilakukan tes DNA untuk identifikasi setiap perorangan dari permukiman tersebut secara pasti. Kenapa setelah bertahun-tahun baru terungkap adanya sebuah permukiman poligami di negara bagian Texas (daerah asal Presiden George Bush Jr) yang melanggar berbagai peraturan hukum, sungguh suatu teka-teki.

Penyimpangan di bidang hubungan seksual yang terjadi di AS ada kaitannya juga dengan kunjungan Paus Benediktus XVI. Pada 2002 ketika Paus Johannes Paulus II mengepalai Gereja Roma Katolik sedunia telah terungkap skandal seks yang cukup meluas di sejumlah paroki di AS. Para imam atau rohaniwan pria telah melakukan pelecehan seks terhadap remaja laki-laki yang bertugas sebagai anggota koor atau membantu dalam kebaktian misa. Bahasa kerennya adalah "pedofilia". Orangtua para korban kemudian melakukan tuntutan hukum. Keuskupan di AS hampir bangkrut karena harus membayar ganti rugi sekitar 2 miliar dolar AS.

Ada yang mengagumkan tentang Paus yang sekarang ini bahwa ia dengan terus terang mengakui noda yang ditanggung gereja. "Saya sangat malu." Dan Paus bertekad untuk melakukan saringan ketat dalam menerima calon-calon rohaniwan.

Tanpa diduga, Paus Benediktus XVI jumpa dengan beberapa korban pedofilia itu yang sekarang sudah dewasa di Kedutaan Besar Vatikan. Ada yang bersedia diwawancarai televisi. Seorang bercerita betapa Paus memegang tangannya, menatapnya secara intens dan berkata bahwa atas nama gereja, dia mohon maaf.

"Saya percaya karena so- rotan matanya menunjukkan Paus ini hamba Tuhan yang tulus," demikian kata mantan korban pedofilia itu.

*

Dalam pesawat menuju London setelah meninggalkan Washington DC terbentang dalam perkiraan saya betapa beratnya beban tugas presiden AS yang akan datang. Pemerintahan Presiden Bush Jr telah mewariskan segudang masalah yang harus diatasi penggantinya.

Siapa nanti calon presiden Partai Demokrat? Setelah kemenangan Hillary Clinton dalam primary (pemilihan calon Partai Demokrat) di negara bagian Pennsylvania, belum tentu Barack Obama yang unggul sebagai calon partainya.

Kita di Indonesia sudah waktunya mengukur dengan presiden baru AS nanti sampai di mana daya mampu negara itu, sebagai negara adikuasa tunggal, masih efektif berperan. Bahwa AS masih unggul di beberapa bidang, itu memang jelas.

Yang perlu kita perkirakan, dengan munculnya Republik Rakyat Tiongkok sebagai negara adikuasa di Asia Pasifik dan sedikit melemahnya AS yang terus memikul beban perang Irak - bagaimanakah proyeksi posisi RI yang tepat dalam menghadapi pergeseran-pergeseran di peta geopolitik Asia-Pasifik?


Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help